Delhi, Kota Pusaka Bertabur Sejarah Unik

‘Jika dunia adalah tubuh, Delhi adalah jiwa’. Ungkapan penyair legendaris Urdu Mirza Galib itu menyiratkan makna estetis mendalam atas kota Delhi. Galib mencintai Delhi sepenuhnya. Baginya Delhi adalah jiwa dunia, mulia dengan nilai-nilai yang abadi. Simbol energi kehidupan.

Mengapa Delhi begitu istimewa sebagai sebuah kota? Diagungkan, dipuji bahkan dipuja.


Pesona sejarah Delhi

Delhi adalah kota metropolis terbesar kedua di India setelah Mumbai. Jauh sebelum kehidupan modern Delhi berkembang menjadi kota dengan peradaban yang maju. Delhi memiliki latar belakang sejarah yang kuat. Menginspirasi kehidupan, cinta, harapan, kemewahan sekaligus kemegahan. Tidak banyak tempat di dunia yang menawarkan begitu banyak pengalaman seni dan pesona sejarah seperti Delhi.


Delhi adalah lambang sejarah India. Keberadaannya menjadi saksi perjalanan hidup India dulu dan kini. Kerajaan besar dengan puncak kejayaan gemilang pernah berkuasa di Delhi. Peninggalannya menyiratkan simbol kemegahan dan kemuliaan di masa lalu.

Sebagai kota kuno berusia ratusan tahun eksistensi Delhi pun dikisahkan dalam Wiracarita Mahabharata. Delhi disebut sebagai Indraprastha yakni ibu kota Pandawa atau ibu kota Kerajaan Kuru. Kerajaan Kuru atau Uttara Kuru terletak di utara Himalaya terbentang di antara sungai Gangga dan sungai Saraswati. Indraprastha dikenal sebagai ‘Kota Dewa Indra’. Referensi Indraprastha juga tertulis dalam teks-teks Buddha yang disebut kota Kuru Mahajanapada.

Dalam epos Mahabharata Delhi atau Indraprastha adalah kawasan permukiman yang berkembang menjadi sebuah kota. Menurut legenda Yudhishtira sang pangeran Pandawa membuka hutan yang dikenal sebagai Khandavavan dan mendirikan kota Indraprastha di Delhi. Kota itu tangguh dan begitu megah. Konon Raja Dhratarshta dari Hastinapura memiliki traktat di sekitar Delhi.

Delhi jamak disebut Dilli dan Dhilli. Konon Raja Dhilu yang memerintah Delhi pada abad ke-1 SM adalah sosok yang menamai kota Delhi.

Pertempuran Pandawa dan Kurawa. Foto: Wikipedia

Delhi terus berkembang seiring berjalannya waktu. Perkembangan Delhi diperkirakan dimulai 3000 SM hingga abad ke 17 Masehi. Referensi lain menyebutkan Kota Delhi mulai dihuni pada tahun ke-6 Masehi. Delhi terbentuk dari gabungan tujuh kota yakni Siri, Shergarh, Tughlakabad, Jahanapanah, Ferozabad, Dinpanah dan Shahajanabad. Sebagai kota yang terus berkembang Delhi bertransformasi sebanyak lima belas kali. Karakternya yang unik menandakan Delhi berkembang menuju kota maju.

Delhi terletak di tepi Barat Sungai Yamuna sekitar 160 km Selatan Himalaya. Secara historis Delhi yang berlokasi di tepi barat Sungai Yamuna mengikuti tradisi di wilayah tersebut yakni harus berada di tepi kanan aliran sungai sementara tepi kiri harus dibiarkan alami. Delhi berada di dalam segitiga yang dibentuk oleh sungai Yamuna di timur dan Delhi Ridge dari jajaran Aravali di barat dan selatan. Berada di sekitar Pegunungan Himalaya udara Delhi cukup bisa membuat tubuh mengigil di musim dingin.

Delhi memiliki arti penting bagi India karena pernah menjadi ibu kota lebih dari tujuh kerajaan. Pusat suksesi kerajaan-kerajaan besar di India. Di antara dinasti besar itu adalah Kesultanan Delhi, imperium muslim terbesar pertama di India utara dengan penguasa pertamanya Qutub-ud-Din Aibak (1206-1210). Dari Qutub-ud-Din Aibak kekuasaan beralih ke Dinasti Khilji dan Dinasti Tughluq, lalu ke Zāhir ud-Dīn Muḥammad bin ʿOmar Sheikh, atau Babur hingga Dinasti Mughal.

Masa kekuasaan Shan Jahan (1649-1857) adalah periode emas Dinasti Mughal. Mughal menjadi kerajaan terbesar dan terkaya sepanjang sejarah dunia. Istananya memancarkan aura kemewahan dan kemegahan luar biasa. Koleksi perhiasannya mungkin yang paling megah di dunia.

Sultan Shah Jahan (1592-1666). Sumber: .tajmahal.gov.in

Shahjahanabad/Old Delhi

Tahun 1639 penguasa Mughal Sultan Shah Jahan memindahkan ibu kota dari Agra ke Delhi. Sultan Shah Jahan sebenarnya menyukai Agra sebagai ibu kota kesultanan Mughal tapi karena populasi terus meningkat Agra jadi padat penduduk. Kondisi itu berdampak besar pada pelaksanaan upacara dan parade di kota. Saat prosesi upacara akbar berlangsung jalanan di kota Agra yang sempit sesak dipenuhi warga.

Shah Jahan ingin membangun ibu kota baru yang letaknya antara Lahore dan Agra. Ia menginstruksikan arsitek, insinyur, dan astrolog istana untuk mencari tempat yang cocok sekaligus menguntungkan untuk ibu kota baru. Pilihan jatuh pada Delhi karena pengalaman dan reputasi kota itu. Delhi pernah menjadi ibu kota kerajaan-kerajaan sebelumnya. Delhi juga dianggap tepat karena perpindahan dari Agra bisa dilakukan dengan nyaman melalui rute sungai.

Sultan Shah Jahan penyuka seni dan arsitektur. Ketertarikan yang besar terhadap arsitektur mengantarkannya membangun Shahjahanabad atau old Delhi. Dengan cermat ia merancang Shahjahanabad/Old Delhi sebagai ibu kota baru Dinasti Mughal. Pola kota Shahjahanabad ditentukan dengan bentuk setengah lingkaran di mana sebagian idenya terinspirasi dari ‘karmuka’ atau desain bentuk busur melengkung dalam teks Hindu kuno vastu shastra. Kemegahan bangunan terinspirasi gaya Persia dan Mughal.

Shahjahanabad/Old Delhi

Shahjahanabad dijuluki kota bertembok karena kota itu dikelilingi tembok dengan 14 gerbang. Sepuluh gerbang menghubungkan kota dengan wilayah sekitarnya. Gerbang Lahore adalah pintu masuk utama Pelabuhan Merah selain Gerbang Delhi. Gerbang Kashmere, Gerbang Kalkuta, Gerbang Mori, Gerbang Kabul, Gerbang Faresh Khana, Gerbang Ajmere dan Gerbang Turkman adalah penghubung utama kota lainnya dengan jalan raya. Shahjahanabad juga dikelilingi sumur sepanjang sepuluh kilometer.

Posisi Old Delhi sebagai pusat kota utama selain Lahore dan Agra kala itu banyak dihuni orang-orang kaya dan kaum bangsawan.

Pemandanan kota Shahjahanabad

Shah Jahan membangun Shahjahanabad bukan sekadar kota bertembok. Ia menciptakan kota yang indah dengan surga di dalamnya. Istana dibangun sangat mewah dan megah dengan benteng dan taman yang luas. Apalagi Shah Jahan punya hobi menata taman, sebuah praktik yang diperkenalkan kaisar Mughal pertama Babur di India.

Benteng Merah yang Perkasa

Titik fokus Shahjahanabad atau Old Delhi adalah Benteng Merah. Lokasi Benteng merah berada dekat benteng Salimgarh yang merupakan pusat politik dan seremonial kesultanan Mughal. Benteng Merah dibangun tahun 1648 dan menjadi kursi resmi pemerintahan Dinasti Mughal.

Perancang Benteng Merah adalah Ahmad Lahauri arsitek yang membangun Taj Mahal. Benteng Merah dibangun menggunakan material batu pasir merah. Desainnya memadukan arsitektur tradisi Persia dan Timurid yang dilengkapi dengan taman besar. Semula Benteng Merah dibangun dengan nama Qila I Mubarak yang artinya benteng yang diberkahi. Nama itu berubah menjadi Lal Quila atau benteng merah sesuai warna bangunan benteng yang terbuat dari batu pasir merah.

Benteng Merah Perkasa. Foto: Lucas/ ancient-origins.net
Iringan kereta berkuda di benteng merah

Benteng Merah adalah simbol pertahanan sekaligus perlindungan kota. Benteng seluas 254 hektar itu dikelilingi 2,4 kilometer tembok pertahanan dengan menara dan bastion setinggi 18 meter di sisi sungai dan 33 meter di sisi kota. Benteng Merah yang berbentuk segi delapan dan memiliki kubah ganda dirancang kokoh dan perkasa sehingga tahan terhadap serangan musuh, waktu dan alam.

Di dalam kompleks Benteng Merah terdapat bangunan istana raja dengan aula utama berornamen marmer berukir, paviliun yang terhubung dengan saluran air dan taman besar. Bangunan penting di dalam Benteng antara lain Rang Mahal, Nahar Bahishit, Diwan-i-am dan Diwan-e-Khas. Diwan-e-Khas adalah aula audensi pribadi Sultan Shah Jahan berukuran 27,4 meter x 20,4 meter.

Paviliun marmer putih yang ditopang pilar berukir rumit merupakan ornamen paling tinggi dari semua bangunan dalam Benteng Merah. Begitu terpikatnya dengan keindahan paviliun itu Sultah Shah Jahan mengukir kata pujian “Jika ada surga di muka bumi ini, inilah dia, inilah dia”.

Diwan-e-Khas. Foto: Nitish Patel

Pada tahun 1656 Masjid Jama dibangun di lokasi yang ditinggikan di dekat Benteng Merah. Mesjid Jama adalah mesjid akbar yang diperuntukkan khusus untuk keluarga kerajaan. Masjid memiliki menara dan kubah tinggi yang menjadi ciri khasnya. Hingga kini Masjid Jama masih menjadi masjid terbesar di Delhi.

Masjid jama di Shahjahanabad/Old Delhi
masjid Jama dipenuhi jemaah

Seluruh Kompleks benteng mewakili kreativitas dan kecemerlangan arsitektur Mughal. Representasi mahakarya seni yang tak lekang oleh waktu. Periode kekuasaan Raja ke-5 Mughal Sultan Shah Jahān adalah masa menggeloranya aktivitas sastra, seni lukis, kaligrafi dan arsitektur yang luar biasa. Selama lebih dari 30 tahun Shahjahanabad/Old Delhi berkembang pesat tidak hanya sebagai ibu kota Kesultanan Mughal tapi juga pusat budaya, seni, puisi, dan musik.

Wisatawan di depan Benteng merah

Benteng Merah adalah salah satu monumen paling populer di India dan objek wisata utama di Delhi. Monumen unik itu memamerkan berbagai artefak berharga. Tahun 2007 Benteng Merah ditetapkan sebagai situs warisan dunia UNESCO. Benteng Merah menjadi bangunan bersejarah yang penting dan istimewa di India. Setiap tahun Perdana Menteri India mengibarkan bendera nasional di Benteng Merah pada Hari Kemerdekaan.

Berkibar di Benteng Merah Foto: cruisingsouls.

Inggris menguasai Delhi

Tahun 1803 kota Delhi berada di bawah kekuasaan Inggris. Tahun 1911 Inggris memindahkan ibu kota dari Kalkuta ke Delhi karena timbul kerusuhan politik dan gejolak menentang kekuasaan Inggris di Bengali. Strategi memindahkan ibu kota ke Delhi sebagai pusat kegiatan pemerintahan Inggris juga dilatarbelakangi kepentingan Inggris untuk menguasai India sepenuhnya. Menempatkan ibu kota di Kalkuta yang berada di Tepi Timur India ternyata menyulitkan Inggris memerintah seluruh wilayah India.

Pemilihan Delhi sebagai ibu kota baru Inggris di India juga mempertimbangkan nilai historis dan simbolis kota itu. Dahulu Delhi adalah ibu kota India kuno. Pusat politik, pemerintahan dan budaya kerajaan-kerajaan besar di India.

Alasan lain Inggris memilih Delhi adalah tidak ada kota lain di India yang terbukti memiliki fasilitas lebih baik dari Delhi. Sebagai pusat perniagaan utama dan pusat komersial terbesar di India Utara selama ratusan tahun, Delhi memiliki sarana dan prasarana paling lengkap mulai dari infrastruktur, jalur kereta api hingga telekomunikasi.

Masa penjajahan Inggris di India

Untuk menjalankan roda pemerintahan, Inggris membangun sebuah pusat administrasi baru di Bukit Raisina, sekitar lima kilometer selatan kota Delhi. Area ini menghubungkan antara Sungai Yamuna dan Delhi Ridge.

Bukit Raisina menjulang setinggi 15 meter sehingga dari puncaknya terlihat hamparan pemandangan di bawahnya. Lokasi yang cocok sebagai pusat pemerintahan sekaligus benteng pertahanan. Inggris memangkas bagian teratas puncak bukit sehingga membentuk dataran dan mendirikan gedung-gedung pusat pemerintahan. Inilah cikal bakal New Delhi. Tahun1947 setelah kemerdekaan New Delhi secara resmi dinyatakan sebagai Ibukota India.

COPYRIGHT ©cutitips 2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.