Menghidupkan Mitos di Taman Legenda Langkawi

Lembing maut

Taman Legenda Langkawi mempunyai keistimewaan tersendiri. Taman yang berada di kawasan Kuah ini menampilkan legenda dan mitos yang populer di tanah Langkawi. Desain taman dibuat artistik menyesuaikan dengan cerita dan hikayat yang berkembang di masyarakat. Itulah sebabnya Taman Legenda Langkawi dijuluki Taman Dongeng. Beberapa legenda memiliki cerita menarik bahkan sarat dengan nuansa mistis.

Legenda Pertarungan dua raksasa

Di Taman Legenda Langkawi ada kisah tentang perseteruan dua sahabat yakni Mat Chinchang dan Mat Raya. Perseteruan sengit itu berujung pada kerusakan maha dahsyat.

Mat Chinchang dan Mat Raya adalah dua sahabat karib. Suatu hari keduanya sepakat menikahkan anak mereka. Mereka menggelar pesta pertunangan. Pesta yang semestinya jadi momen bahagia seketika berubah menjadi huru-hara. Terkuak kabar putra Mat Chinchang tertarik dengan gadis lain. Kabar ini sontak memicu kemarahan Mat Raya, calon mertuanya. Merasa dipermalukan, Mat Raya membatalkan pertunangan itu. Mat Raya dan Mat Chinchang akhirnya bertengkar hebat. Keduanya kalap, saling menghantam dan menendang. Dikuasai emosi mereka mengambil peralatan masak yang berada di dekat mereka lalu melemparkan ke arah satu sama lain. Keadaan makin kacau. Panci, wajan dan cawan melayang di udara.

Simbol pertarungan Mat Chinchang vs Mat Raya. Foto: Travelingthruhistory
Belanga Pecah

Konon dari pertarungan sengit itulah sejumlah tempat di Langkawi tercipta. Sebuah periuk berisi kuah gulai yang terlempar dan pecah tempat jatuhnya kini bernama Kampung Belanga Pecah. Kuah gulai yang jatuh mengalir di tanah dinamakan Pekan Kuah. Sementara kuah kari yang meresap ke dalam tanah menjadi Kisap. Mangkuk berisi air panas yang jatuh sekarang menjadi kawasan bernama Ayer Hangat. Putri Mat Raya yang emosi melemparkan cincin pertunangan karena tak terima dipermalukan tempat jatuhnya cincin dikenal sebagai Tanjung Chinchin.

Desain ilustrasi Tanjung Chinchin

Pertarungan dramatis antara Mat Chinchang dan Mat Raya tak hanya meninggalkan kerusakan besar tapi juga penyesalan luar biasa. Sadar atas kesalahan yang mereka perbuat keduanya sepakat berdamai dengan bantuan Mat Sawar. Untuk menebus kesalahan Mat Chinchang dan Mat Raya memutuskan berubah menjadi gunung. Kini kedua gunung itu dikenal sebagai Gunung Mat Chinchang dan Gunung Raya. Sementara Mat Sawar berubah menjadi bukit. Bukit Sawar terletak di antara Gunung Mat Chinchang dan Gunung Raya. Konon Bukit Sawar berada di tengah untuk ‘mengawasi’ Mat Chinchang dan Mat Raya agar kedua sahabat karib itu tak lagi bertengkar.

Legenda Mat Chinchang dan Mat Raya diilustrasikan dalam seni dan tata letak yang menarik di Taman Legenda Langkawi. Saat berkunjung ke Langkawi sempatkan menyambangi sejumlah tempat legendaris tersebut.

Legenda Kutukan Mahsuri

Menjelajah ke bagian lain Taman Legenda Langkawi ada Dinding Warita Mahsuri. Tembok ukir perunggu ini dibangun sebagai penghormatan kepada seorang wanita yang dihukum mati karena dituduh berzina pada tahun 1800an. Legenda dramatis itu banyak dihubungkan dengan kondisi Pulau Langkawi di masa lalu dan masa depan.

Dahulu Langkawi adalah lahan subur penghasil beras, buah-buahan dan hewan ternak. Namun lambat-laun Langkawi berubah menjadi lahan gersang. Tanaman sulit tumbuh dan bencana datang silih berganti. Banyak orang percaya Langkawi bernasib buruk lantaran sumpah seorang wanita bernama Mahsuri. Mahsuri mengutuk Langkawi menjadi pulau yang tidak makmur selama tujuh turunan.

Legenda itu bermula dari sepasang suami istri Pandak Mayah dan Cik Alang yang merantau ke Pulau Langkasuka (sebutan Langkawi dahulu). Mereka memilih menetap di Kampung Cenerai untuk memulai hidup baru. Kebahagiaan mereka kian lengkap dengan hadirnya tiga anak perempuan. Si sulung Masiah, anak kedua Masilah dan si bungsu Mahsuri. Mahsuri dianugerahi paras cantik. Kecantikan Mahsuri terkenal seantero kampung dan mengundang iri kaum hawa.

Mahsuri. Foto: asianitinerary

Di usia dua puluhan Mahsuri menikah dengan panglima perang Langkasuka bernama Wan Derus Bin Wan Embong. Saat itu Pulau Langkasuka tengah berperang melawan Siam (kini Thailand). Siam secara besar-besaran menyerang Langkasuka dan hendak menguasai wilayah tersebut.

Pernikahan Mahsuri dan Wan Derus Bin Wan Embong dikaruniai dua orang anak yakni Wan Hakim dan Wan Hamzah. Meski sudah menikah dan beranak dua kecantikan Mahsuri tak pudar. Kecantikan Mahsuri membuat banyak wanita iri karena merasa tersaingi. Tak terkecuali Wan Mahora, Istri kepala kampung yang tak lain kakak ipar Mahsuri. Merasa terancam dengan kecantikan Mahsuri, Wan Mahora menyiapkan rencana jahat untuk memfitnah Mahsuri. Untuk menjalankan siasat liciknya. Wan Mahora tak sendiri. Ia mengajak Mak Udoh, tetangga Mahsuri

Mahsuri dan Wan Derus, suaminya berkawan dengan Deramang, seorang penjual kain asal Sumatera. Karena urusan niaga Deramang sering mengunjungi kediaman Mahsuri dan orang tua Mahsuri untuk menjual barang-barang. Kondisi inilah yang dimanfaatkan Wan Mahora.

Saat Deramang bertandang ke kediaman Mahsuri untuk menjual kain, Mak Udoh mengintai. Tak lama, Mak Udoh pergi ke rumah kepala kampung Datuk Pekerma Jaya Wan Yahya. Ia melaporkan Mahsuri telah berselingkuh dengan Deramang, si penjual kain. Mahsuri dituduh berbuat lancung di saat suaminya tengah berada di medan perang. Fitnah keji itu didukung Wan Mahora, istri sang kepala kampung. Termakan omongan Mak Udoh dan istrinya, Datuk Pekerma Jaya Wan Yahya langsung mengirimkan utusan ke rumah Mahsuri di kampung Cenerai dan memerintahkan Mahsuri untuk menghadapnya.

Tak paham perkara yang menimpanya Mahsuri bergegas menemui kepala kampung. Terkejutlah Mahsuri saat dirinya dituduh berzina dengan Deramang, si penjual kain. Mahsuri menyangkal semua tuduhan keji itu. Tapi Kepala Kampung tak menerima penjelasan Mahsuri dan justru menuding Mahsuri berbohong. Mahsuri akhirnya ditahan selama dua hari di Kampung Jerat.

Bak virus gosip tentang Mahsuri menyebar hingga ke kampung Cenerai. Seisi kampung gempar. Orang tua Mahsuri yang mendengar kabar buruk itu sontak mendatangi kediaman Datuk Pekerma Jaya Wan Yahya. Mereka berusaha menolong Mahsuri namun usaha mereka sia-sia.

Penjelasan kedua orang tua Mahsuri tak diindahkan kepala kampung. Tak ada lagi yang bisa mereka perbuat selain pasrah dan berdoa. Sementara Deramang yang mendengar kabar buruk itu memilih kabur dari Pulau Langkasuka. Kabarnya ia menaiki kapal menuju Sumatera.

Tuduhan kepada Mahsuri berbuntut hukuman mati. Menolak mengakui perbuatanya Mahsuri diseret paksa dengan tangak terikat. Ia dibawa ke tepi pantai dan diikat di sebuah pohon Cenerai besar. Mahsuri diinterogasi dan dipaksa untuk mengakui perbuatannya. Berkali-kali pula ia menyangkal tuduhan itu. Karena dianggap tak bisa membuktikan sebilah keris dipersiapkan untuk mengeksekusi mati Mahsuri.

Algojo mulai menghujam dada Mahsuri. Tak kuat menyaksikan ibu Mahsuri jatuh pingsan. Tak lama muncul keanehan. Dari bekas tikaman di tubuh Mahsuri keluar darah berwarna putih. Banyak orang mengartikan darah putih itu adalah pertanda Mahsuri tidak bersalah. Namun tidak ada seorang pun yang kuasa menghentikan hukuman itu. Sang eksekutor terus menghujam punggung Mahsuri tiga kali hingga akhirnya Mahsuri ambruk dan tersungkur.

Konon sebelum meregang nyawa Mahsuri mengambil tusuk sanggul rambutnya. Dengan tenaga tersisa ia menghujamkan tusuk sanggulnya ke tanah seraya bersumpah bahwasannya Langkasuka (Langkawi) tidak akan makmur selama tujuh turunan. Sumpah kutukan perempuan keturunan Siam itu terwujud. Sepekan setelah kematiannya hujan deras mengguyur Langkasuka tujuh hari tanpa henti. Bencana alam datang silih berganti. Beberapa tahun setelahnya pasukan Siam menyerbu dan menindas Langkasuka.

Sumber lain mengatakan muncul fenomena langka di mana jumlah kerbau lebih banyak dari penduduk kampung. Kerbau-kerbau menyerang perkampungan warga secara membabi buta dan menghancurkan rumah-rumah warga. Musibah demi musibah terus datang. Nasib buruk mendera Langkasuka. Kehidupan masyarakat Langkasuka semakin terpuruk, miskin dan melarat. Masyarakat Langkasuka percaya kesengsaraan dan kesusahan yang mereka alami adalah balasan atas ketidakadilan dan kezaliman terhadap Mahsuri.

Sapi di Langkawi. Foto: cutitips

Langkawi boleh berlega karena Tujuh turunan telah berlalu. Tahun 1980 generasi kedelapan keturunan Mahsuri lahir. Dengan begitu kutukan Mahsuri berakhir. Sesuai puisi yang tercantum Dinding Warita Mahsuri Langkawi tak lagi tidur. Kini Langkawi menjelma menjadi pulau yang terus berkembang dan menjadi salah satu destinasi wisata andalan Malaysia.

Pulau Dayang Bunting

Bergeser ke bagian lain di Taman Legenda Langkawi ada spot yang berkisah tentang mitos Pulau Dayang Bunting. Pulau Dayang Bunting bercerita tentang bidadari yang menikah dengan seorang pangeran.

Mambang Sari adalah seorang bidadari cantik. Sang putri kahyangan itu sering turun ke bumi untuk mandi dan bermain di danau favoritnya. Suatu hari seorang pangeran bernama Mat Teja melihat bidadari Mambang Sari di sekitar danau. Terpikat kecantikan Mambang Sari, Mat Teja langsung jatuh hati. Ia meminta Mambang Sari untuk menjadi pendampingnya. Namun putri kahyangan itu menolak pinangan sang pangeran.

Cinta ditolak Mat Teja bertindak. Ia mendatangi seorang guru sakti dan meminta saran darinya. Guru sakti itu memberitahu cara untuk mendapatkan cinta sang bidadari. Syaratnya Mat Teja harus bisa mencari air mata putri duyung dan mengusapkan ke wajahnya. Guru sakti itu menjanjikan Jika Mat Teja berhasil melakukan itu maka ia bisa memiliki cinta Mambang Sari. Syarat itu disanggupi Mat Teja. Tak lama ia berhasil menemukan putri duyung. Namun tak semudah yang ia dibayangkan. Putri duyung menolak memberikan air matanya ke Mat Teja.

Mat Teja tak kehabisan akal. Ia memancing perhatian putri duyung dengan memberinya sebuah bola emas. Gayung bersambut putri duyung menyukainya. Ia senang bermain dengan bola emas itu. Saking asyiknya bermain putri duyung lupa waktu. Ia tidak memperhatikan air mulai pasang. Gelombang besar tiba-tiba datang dan menghempas dirinya ke daratan. Panik dan takut putri duyung mulai menangis. Mat Teja segera menampung air mata putri duyung dengan bola emas. Mat Teja yang berhasil mendapatkan air mata putri duyung langsung pergi ke danau tempat sang bidadari mandi. Ia mengusap air mata putri duyung itu ke wajahnya dan menunjukkan dirinya ke Mambang Sari.

Pesona magis membuat bidadari terpikat oleh Mat Teja. Seketika Mambang Sari jatuh cinta dan bersedia menerima pinangan Mat Teja. Di bawah pengaruh mistis Mambang Sari dan Mat Teja akhirnya menikah.

Pernikahan mereka dikaruniai seorang anak. Namun kebahagiaan mereka tak berlangsung lama. Lambat-laun Mambang Sari mengetahui kebohongan Mat Teja. Yang juga memilukan anak Mambang Sari sakit beberapa hari setelah lahir. Tepat di hari ketujuh bayi itu meninggal dunia.

Ditinggal mati anaknya Mambang Sari sangat terpukul. Ia kemudian mengubur anaknya di dalam danau. Dalam keadaan berduka Mambang Sari membaca mantra dan doa untuk memberkahi danau dengan kesuburan. Ia menyucikan air Tasik Dayang Bunting untuk bisa membantu orang-orang memperoleh keturunan. Setelah itu Mambang Sari pergi ke kahyangan. Ia tak pernah kembali lagi ke bumi.

Gapura Dayang Bunting

Legenda Buaya Putih

Legenda lain di Pulau Dayang Bunting juga diceritakan di Taman Legenda Langkawi. Kisah tentang buaya albino yang menjaga Tasik Dayang Bunting. Cerita bermula dari cinta terlarang antara Telani, seorang dayang istana dengan Telanai, prajurit Pulau Langkasuka-sebutan Langkawi dulu.

Telani dikenal sebagai dayang istana yang cantik dan setia kepada Sultana. Karena kecakapannya melayani sang maharani sangat menyayangi Telani dan menganggapnya bagian dari keluarga.

Di usia 21 tahun Telani jatuh cinta dengan prajurit Istana bernama Telanai. Telanai sangat tampan dan dikenal sebagai prajurit gagah berani. Merasa nama mereka mirip, Telani menganggapnya isyarat dari langit bahwa Telanai adalah jodohnya. Namun impian untuk bisa bersama lelaki idamannya buyar begitu ia tahu Telanai keturunan darah biru. Telanai adalah putra dari Perdana Menteri Pulau Langkasuka. Sulit membayangkan dirinya yang hanya seorang dayang istana bisa bersanding dengan lelaki dari keluarga terpandang.

Telanai sebenarnya juga merasakan hal yang sama. Ia jatuh cinta kepada Telani. Namun sulit baginya untuk bisa bertemu gadis pujaannya. Pasalnya pergerakan di dalam istana sangat dibatasi. Tidak semua orang diperkenankan berkeliaran di dalam istana. Sesuai aturan istana hanya sultan, sultana, putri dan putra sultan, dayang istana serta pelayan yang sangat dipercaya yang boleh berada di dalam istana. Prajurit sekali pun tidak diperbolehkan masuk ke dalam istana. Aturan itu untuk melindungi anggota kerajaan dari ancaman atau niat jahat seseorang. Jika ada orang yang berkeliaran di dalam istana maka sesuai hukum istana akan dihukum mati.

Tak memilki peluang untuk bertemu akhirnya nasib baik berpihak pada Telani dan Telanai. Keduanya dipertemukan di sebuah acara perkawinan kaum ningrat di mana Sultan dan Sultana diundang sebagai tamu istimewa. Telanai bersama dengan prajurit lainnya bertugas mengawal Sultan. Sementara Telani turut mendampingi Sultana.

Di acara pernikahan itu Sultan dan Sultana duduk dekat dengan sang mempelai. Kondisi itu mengharuskan pengawal Sultan dan dayang istana menjauh. Kesempatan ini dimanfaatkan Telani dan Telanai. Keduanya duduk saling berdekatan. Telanai duduk persis di belakang Telani. Saking dekatnya Telanai bisa mencium aroma bunga melati penghias rambut Telani. Meski berdekatan keduanya tak saling bicara.

Telani merasa Telanai kerap mencuri pandang ke arahnya. Saat Telani menoleh ke arah Telanai, pria gagah itu membuang pandangan. Tak sepatah kata pun terucap dari mulut Telanai. Padahal Telani berharap Telanai membisikkan sesuatu ke telinganya. Meski demikian Telani bahagia bisa berada dekat dengan pria pujaannya. Begitu juga Telanai. Magnet cinta telah mendekatkan keduanya. Tak ingin terlihat lemah karena cinta Telanai bersikap cuek. Ia ingin mengesankan duduk dekat dengan Telani semata karena kebetulan dan bukan sesuatu yang direncanakan.

Saat keduanya beradu pandang Telanai memberanikan diri tersenyum seraya menjabat tangan Telani. Telani langsung membalas senyum Telanai. Tak lama Telanai beranjak pergi.

Hubungan Telani dan Telanai berlanjut. Namun sulit sekali bagi mereka bertemu. Telani selalu bersama Sultana sementara Telanai kerap mendampingi Sultan. Telanai sering pergi untuk tugas-tugas penting kerajaan. Belum lagi ia harus menemani Sultan berburu. Selain seorang pejuang tangguh Telanai juga dikenal sebagai pemburu andal.

Seribu satu cara dipikirkan Telani agar bisa berjumpa dengan kekasihnya. Diam-diam Telani menyelinap keluar istana untuk bertemu Telanai di kebun istana. Pertemuan rahasia itu sangat berbahaya dan beresiko bagi keduanya. Jika ketahuan mereka bisa dihukum berat. Tapi ancaman hukuman tak menyurutkan hasrat dua sejoli untuk bertemu. Dimabuk asmara keduanya merencanakan pertemuan rahasia. Pertemuan demi pertemuan selalu berujung pada rencana perjumpaan berikutnya.

Seiring waktu cinta Telani dan Telanai tumbuh. Namun tak mudah bagi mereka untuk bisa bersama. Apalagi Langkasuka tengah diserang perompak jahat. Atas perintah Sultan Telanai didaulat memimpin ekspedisi untuk menumpas dan mengusir para pembajak laut yang menguasai Pulau Langkasuka.

Sebelum pergi bertugas Telanai memberi sehelai syal kepada Telani. Telanai meminta Telani memakai syal itu selama ia pergi. Sedih harus melepas kekasihnya ke medan perang dengan berat hati Telani menerimanya.

Telani ragu Telanai akan kembali karena kawanan perompak yang terkenal bengis dan tak kenal ampun bisa membunuh siapa saja. Tak ada yang bisa dilakukan Telani selain pasrah dan berdoa. Telanai memimpin ekspedisi dengan membawa 100 orang pasukan. Ia mengerahkan perahu-perahu besar untuk mencari perompak.

Selama ditinggal kekasihnya Telani tetap berada di istana. Belakangan Telani sadar dirinya hamil. Tak ingin kehamilannya diketahui Telani meminum ramuan herbal. Namun ramuan herbal tak bisa mencegah kehamilan Telani. Di awal kehamilan Telani masih bisa menutupi perutnya. Namun saat memasuki usia kehamilan tujuh bulan perut Telani kian membesar. Kabar kehamilan Telani akhirnya menyebar dan menjadi bahan pergunjingan di kalangan dayang istana terlebih Telani adalah dayang istana yang belum menikah. Jika Telani hamil maka dipastikan ia berbuat zina.

Sultan yang mengetahui perihal kehamilan Telani sangat murka. Sultan tak ingin Telani tetap berada di istana karena bisa menjadi contoh buruk bagi yang lain. Tak ada jalan lain selain Telani harus disingkirkan. Sultan memerintahkan kepala istana menahan dan menginterogasi Telani sekaligus mencari tahu siapa yang bertanggung jawab atas kehamilan Telani. Telani diam seribu bahasa.

Sultan berkonsultasi dengan Sultana dan perdana menteri untuk menentukan hukuman bagi Telani. Berbuat lancung di istana, hukumannya mati. Untuk menghindari Telani dari hukuman mati, Sultana menyarankan Telani dibuang jauh dari istana. Saran itu adalah rencana Sultana menyelamatkan Telani. Sebuah balasan kebaikan atas pelayanan dan kesetiaan Telani selama ini terhadap dirinya.

Ide mengasingkan Telani diamini oleh Sultan dan perdana menteri yang notabene tak tahu putranyalah yang sebenarnya menghamili Telani. Telani akan dibuang ke Pulau Dayang Bunting yang tidak berpenghuni. Hukuman agar Telani jera dan menyesali perbuatannya.

Hari hukuman itu datang. Telani dinaikkan ke kapal dan dibawa ke Pulau Dayang Bunting. Sesampainya di Pulau Dayang Bunting Telani ditinggal sendirian. Telani menangis dan meratapi nasibnya. Ia berharap Telanai bersamanya. Di tengah sepi sendiri, pikirannya melayang. Telani mengingat kebahagiaan saat bersama Telanai. Ia berharap Telanai menemaninya dan menghadapi segala kesulitan bersama. Namun ia sadar harapannya sia-sia.

Merasa tak berdaya, Telani mengubah niatnya dan berharap tidak ada seorang pun yang tahu Telanai adalah ayah dari anak yang dikandungnya. Dengan begitu Telanai aman dan bisa fokus pada perjuangannya memberantas perompak. Telani masih menyimpan sedikit asa, suatu saat nanti Telanai datang dan menjemputnya di Pulau Dayang Bunting.

Saat Telani terasing sepi di Pulau Dayang Bunting, Telanai bersama pasukannya tengah berjibaku memburu para pembajak laut. Para perompak itu sangat lihai. Mereka berhasil mengecoh Telanai dan pasukannya. Menghindari kejaran, para perompak menarik perahu dan masuk ke pedalaman. Mereka menghilang di antara penduduk desa. Para perompak genas itu bahkan bisa bersembunyi di antara seratus gugusan pulau.

Hari berlalu dan bulan berganti. Sembilan bulan mengandung, Telani melahirkan seorang anak laki-laki. Telanai yang mengetahui kabar tentang Telani dan anaknya langsung berlayar menuju Pulau Dayang Bunting. Naas saat berlayar, tiba-tiba badai datang. Petir menyambar dan guntur menggelegar. Telanai terombang-ambing, hilang terhempas badai.

Di saat yang bersamaan anak Telani yang sedang nyenyak tidur di pinggir Tasik Dayang Bunting kaget dan terbangun. Ia terjatuh ke dalam tasik. Telani berusaha menolong anaknya, namun takdir berkata lain. Anaknya tak bisa diselamatkan.

Menurut mitos yang beredar, setelah kabut menghilang Telanai berubah menjadi Pulau Tajai, sementara Telani menjelma menjadi batu besar di tempat ia menangis. Seekor buaya putih kerap muncul berenang di antara Pulau Tajai dan batu besar. Buaya putih konon adalah jelmaan anak dari Telanai dan Telani.

Ada banyak legenda, mitos dan cerita mistis lainnya yang diilustrasikan dalam seni apik di Taman Legenda Langkawi. Ada Pulau Jong, Pulau Beras Basah, Pantai Pasir Hitam, Padang Gaong, Bukit Hantu, Rebab, Genggang, Pulau Kentut Besar, Pulau Kentut kecil. dan lainnnya. Langkawi adalah tempat tinggal para roh dalam kesusastraan klasik. Tempat dimana Garuda, burung raksasa, bersarang di pulau-pulau di Langkawi. Dan sosok pejuang legendaris Merong Mahawangsa, penguasa, sekaligus Raja pertama Pulau Langkasuka pernah berjaya.

Mengunjungi Taman Legenda Langkawi membawa kita pada perjalanan menelusuri budaya dan sejarah Langkawi. Pengunjung dibawa ke setiap bagian yang menyenangkan dengan legenda dan cerita rakyat yang unik.

COPYRIGHT ©CUTITIPS 2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.