Tren Baru Liburan di Era New Normal

Memakai masker saat beraktivitas Foto: Matteo Bellia/pixabay

Banyak hal berubah dalam kehidupan manusia sejak munculnya pandemi Covid-19, tak terkecuali dalam hal liburan. Larangan dan pembatasan bepergian ke seluruh dunia akibat wabah virus Corona merontokkan industri pariwisata lokal dan internasional. Dalam tatanan kehidupan baru atau new normal, aturan baru dibuat untuk menjamin keselamatan dan keamanan setiap orang.

Bagaimana tren liburan masa depan pasca pandemi Corona atau Covid-19 berakhir? Berikut tujuh tren baru liburan di bawah aturan era kenormalan baru atau new normal seiring lambat-laun pulihnya pariwisata dunia. 

 

1. Sanitasi & kebersihan prioritas utama

Pandemi Covid-19 membuat semua orang lebih sadar dan peduli terhadap kesehatan, kebersihan dan lingkungan. Pelancong tertarik pada layanan yang mengutamakan kebersihan dan sanitasi baik di pesawat, bandara, hotel atau pun restoran. Agen perjalanan dan tempat tujuan wisata juga lebih memprioritaskan pada langkah-langkah untuk menjamin kesehatan dan keselamatan turis selama perjalanan. Standar baru dan protokol kesehatan di fasilitas wisata menjadi aspek penting di masa depan.

Protocol kesehatan di layanan publik. Foto: Stuart Bailey/pixabay

2. Etiket bepergian

Cara kita membawa diri di tempat umum tidak bisa lagi dianggap sepele. Demi keselamatan menjaga jarak aman dari sesama pelancong dan mengikuti standar kebersihan tangan serta pernapasan adalah kebiasaan baru yang tidak bisa ditawar. Hand sanitizer banyak ditempatkan di titik-titik tertentu di area bandara, hotel serta fasilitas wisata. Rajin cuci tangan dan gunakan hand sanitizer sesering mungkin.

Mencuci tangan Foto: Ivabalk/pixabay

3. Berkemas minimalis

Berkemas ringan harus menjadi norma baru dalam bepergian. Membawa barang yang terlalu banyak selain harus membayar bagasi juga menimbulkan ancaman baru. Kargo pesawat yang menampung koper dan tas dalam satu tempat selama berjam-jam berpotensi terjadinya kontak fisik saat pengecekan bagasi. Begitu pula bawaan di bagasi kabin, di mana tas akan berbagi tempat dengan tas lain dan kontak fisik terjadi saat tas dibawa. Membawa barang bawaan minimalis secara tidak langsung mengurangi kontak fisik dengan orang lain sehingga lebih aman dalam perjalanan. Kurangi bawaan dan belajarlah bepergian membawa barang seperlunya.

Tas bepergian. Foto: pixabay

4. Layanan digital makin masif

Layanan wisata akan semakin melibatkan teknologi digital,  Mulai dari web check-in, pencarian bagasi hingga pembayaran, prosesnya dibuat semakin online. Tujuannya untuk mencegah pertukaran uang tunai dan kontak manusia. Layanan online akan semakin mudah dan nyaman. Wisatawan dituntut lebih cerdas teknologi dan tetap selaras dengan perkembangan baru.

Aplikasi traveling. Ilustrasi: Mohammed Hassan/pixabay

5. Pemeriksaan keamanan lebih ketat

Di bawah aturan kenormalan baru atau new normal, pelancong menghadapi serangkaian pemeriksaan ketat. Di bandara dan pelabuhan misalnya protokol kesehatan berupa pemindaian suhu tubuh, pengecekan alat pelindung diri berupa masker, pegaturan jarak duduk, keharusan membawa surat keterangan bebas Covid-19 bertujuan untuk memastikan keselamatan semua orang. Proses pemeriksaan keamanan akan memakan waktu lebih lama.

Kursi duduk berjarak di bandara. Foto: Michael Gaida/pixabay

6. Liburan dengan grup kecil

Pasca pandemic Covid-19 kebanyakan turis mencari pengalaman wisata yang berbasis pada pengalaman kuliner, kearifan lokal dan berorientasi alam. Wisatawan memilih liburan dengan jumlah orang yang lebih sedikit, dalam grup kecil atau bersama keluarga.

Liburan tiga orang. Foto: Matteo Bellia/pixabay

7. Memilih tempat wisata sepi

Setelah berbulan-bulan berada di rumah atau staycation (wisata di luar rumah), gelombang wisatawan besar diprediksi bakal terjadi. Wisatawan memadati tempat-tempat wisata dan jumlahnya bakal membludak. Kondisi ini disebut revenge tourism yakni aksi balas dendam turis atau wisatawan untuk liburan. Umumnya, ketika sudah menyesuaikan dengan kenormalan baru, orang lebih memilih tempat wisata yang relatif lebih sepi dan menghindari keramaian. Objek wisata alam, suasana pedesaan dan aktivitas outdoor menjadi preferensi turis atau pelancong.

Selfie di kuil putih Wat Rong Khu, Chiang Rai. Foto: Peggy Und marco Lachmann-Anke

Kenormalan baru butuh kesadaran kolektif. Selama vaksin Corona atau Covid-19 belum ditemukan dan diproduksi secara massal ancaman virus mematikan akan terus menghantui. Pun jika vaksin telah ditemukan menjaga kesehatan dan kebersihan diri adalah hal yang mutlak.

Kebiasaan cuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak dengan orang lain seyogyanya menjadi norma atau budaya baru dalam kehidupan. Kebiasaan yang harus tetap dipertahankan untuk melindungi diri kita dan orang lain dari penyebaran virus Corona termasuk ancaman penyakit lain. Kita tidak perlu takut dengan aturan liburan baru di era adaptasi kebiasaan baru atau new normal karena sejatinya membantu menjaga keselamatan dan keamanan bagi setiap orang.

COPYRIGHT ┬ęCUTITIPS 2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.