Ramalan Astrologi Membentuk Sejarah Myanmar

Ramalan tidak hanya lekat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Myanmar tapi turut membentuk sejarah bangsa itu. Beberapa tahun setelah perang dunia berakhir, Myanmar yang dulu dikenal dengan nama Burma merdeka dari Inggris. Pasca kolonialisme Inggris, Myanmar sebenarnya bisa langsung mengumumkan kemerdekaan pada tanggal 1 Januari 1948. Namun hal tersebut tidak dilakukan. Para founding father atau pendiri negara Myanmar sengaja menunda kemerdekaan dengan alasan hari, tanggal dan jam kemerdekaan harus tepat diperhitungkan. Dan itu harus berdasarkan ramalan.

Burma memproklamirkan kemerdekaan pada tanggal 4 Januari 1948, pukul 04.20 subuh waktu Myanmar. Penentuan 4 Januari 1948, sebagai hari dan tanggal Burma merdeka tidak diatur oleh Inggris melainkan didasarkan pada perhitungan astrologi dan numerologi di Kota Rangoon. Para ahli nujum bekerja keras memilih hari, tanggal dan jam yang dianggap paling baik dan menguntungkan untuk Burma membuka lembaran baru sebagai negara merdeka.

Upacara kenaikan bendera Myanmar di Rangoon, Foto: Bettmann/CORBIS

Astrologi juga digunakan penguasa Myanmar untuk menjalankan pemerintahan. Pemimpin Myanmar mengandalkan pengetahuan dan kekuatan supranatural untuk membantu memerintah negeri melalui ramalan astrologi dan numerologi.

Jenderal Ne Win adalah presiden Burma periode 1974- 1981. Sebelum menjadi presiden, Jenderal Ne Win menjabat sebagai perdana menteri Burma periode 1958-1960 dan periode 1962 -1974. Ia juga menjabat ketua Partai Program Sosialis Burma, satu-satunya partai politik di Burma dan memegang penuh kekuasaan hingga tahun 1988.

Jenderal Ne win

Jenderal yang dikenal sebagai penguasa diktator Myanmar ini menggunakan ramalan astrologi untuk mempertahankan kekuasaan politiknya. Jenderal Ne Win berkonsultasi meminta saran dari para “ahli nujum pemerintahan” untuk mengatasi masalah dan tantangan dalam mengelola negara. Awalnya nasihat dan saran dari para ahli nujumya tidak berdampak besar bagi perkembangan Myanmar.

Keadaan baru berubah di pertengahan tahun 1970-an. Jenderal Ne Win secara tiba-tiba memerintahkan semua mobil di jalan-jalan Myanmar dikemudikan di lajur kanan jalan. Sulit untuk menemukan alasan logis di balik perubahan radikal tersebut karena tidak didasarkan pada alasan yang jelas. Rupanya kebijakan itu merupakan praktik yadayah chai, yakni sebuah tindakan melaksanakan saran atau nasihat yang ditetapkan para ahli nujum. Berbekal bisikan ahli nujumnya, Jenderal Ne Win percaya mengemudi di lajur kanan bisa mencegah tabrakan atau kecelakaan.

Untuk membuktikan itu cutitips bertandang ke Myanmar. Di jalan raya mobil, sepeda motor, atau pun sepeda berjalan dari lajur kanan dan bukan dari lajur kiri. Anomali, kondisi ini berbeda dengan di Indonesia atau negara-negara lain yang jamak menggunakan sisi kiri sebagai lajur berkendara. Jika tidak terbiasa bisa sedikit membingungkan.

Cutitips sempat mengalaminya saat mengendarai e-bike (electronic bike) atau sepeda motor listrik di kota kuno Bagan karena terbiasa mengambil lajur kiri di Indonesia. Sebelum menyadari kesalahan, seorang pengendara berbaik hati mengingatkan agar posisi e-bike berpindah ke lajur kanan. Selalu ingat sisi kanan adalah lajur berkendara di Myanmar. Berhati-hatilah, jika salah atau lupa bisa berbuah celaka, membahayakan diri sendiri dan pengendara lain.

Mengendarai e-bike di Bagan. Foto: cutitips

Mata uang kontroversial

Kebijakan kontroversial lagi-lagi terjadi di Myanmar. Tanggal 22 September 1987, Myanmar menerbitkan dua uang kertas baru dengan nominal tak lazim yakni pecahan 45 Kyat dan 90 Kyat. Belum pernah ada satu pun negara di dunia yang mengeluarkan uang kertas pecahan 45 dan 90 termasuk Myanmar sebelumnya. Kebijakan ini diambil berdasarkan bisikan dari para ahli nujum. Jenderal Ne Win mendadak mengubah mata uang Myanmar menjadi kelipatan sembilan karena sembilan adalah angka keberuntungannya. Penjumlahan kedua angka 4 dan lima (4+5) serta 9 dan nol (9+0) sama-sama menghasilkan angka sembilan (9).

Jenderal Ne win mengambil keuntungan pribadi dengan mengeluarkan kebijakan kontroversial tersebut. Dengan menerbitkan uang kertas pecahan 45 Kyat dan 90 Kyat Jenderal Ne Win diyakinkan bisa berumur panjang hingga sembilan puluh tahun. Yang mengejutkan, Jenderal Ne Win betul dikaruniai usia panjang. Bulan Mei 2002 Jenderal Ne Win berulang tahun ke 92. Tujuh bulan setelah merayakan ulang tahunnya, 5 Desember 2002 Jenderal Ne Win meninggal dunia. Kenyataan Jenderal Ne Win berumur panjang hingga 92 tahun pada gilirannya meyakinkan sebagian besar masyarakat Myanmar untuk percaya pada astrologi (ramalan bintang).

Uang Kyat pecahan 45. Foto: robertsworldmoney
Uang Kyat pecahan 90 Kyat. Foto: robertsworldmoney

Terlepas dari kenyataan bahwa ia hidup sampai usia 92 tahun, nasib baik tidak selalu berpihak pada Jenderal Ne Win. Setelah dilanda gelombang protes dan demonstrasi besar-besaran, Jenderal Ne Win akhirnya tidak kuat lagi menghadapi tekanan rakyat. Tahun 1988 Jenderal Ne Win memutuskan untuk mengundurkan diri dan mengakhiri jabatannya sebagai penguasa Myanmar. Malam sebelum menyerahkan kekuasaan, Jenderal Ne Win tidak tidur di rumahnya tetapi menginap di Saya San Hall, lagi-lagi mengikuti saran peramalnya.

Pindah ibu kota karena ramalan bencana

Profesi ahli nujum atau peramal sangat dihormati di Myanmar. Tidak cuma Jenderal Ne Win yang patuh mendengarkan bisikan para ahli nujumnya, Jenderal Than Shwe juga selalu mengandalkan peramalnya. Tahun 2005 mantan pemimpin junta militer yang pernah bekerja sebagai tukang pos ini memerintahkan membangun sebuah ibu kota baru, Naypyidaw dengan tanggal dan waktu yang tepat sesuai arahan ahli nujum. Kabarnya ia memindahkan ibu kota Myanmar dari Yangon ke Naypyidaw atas bisikan E Thi, sang ahli nujum.

E Thi alias Swe Swe Win adalah ahli nujum kondang di Myanmar. Kliennya adalah tokoh-tokoh berpengaruh dan kuat di Myanmar termasuk pemimpin politik di Asia Tenggara seperti Thaksin Shinawatra, pengusaha dan miliarder. Jenderal Than Shwe sangat percaya dan patuh pada bisikan E Thi. E Thi meramalkan akan terjadi bencana, dan cara untuk mencegahnya adalah dengan memindahkan ibu kota. Atas nasihatnya itu Jenderal Than Shwe menggeser ibu kota dari Yangon ke Naypyitaw.

Naypyidaw berlokasi di Kota Pyinmana, Provinsi Mandalay. Naypyitaw berjarak sekira 376 kilometer atau sekitar lima jam perjalanan darat dari Yangon. Naypyidaw secara harfiah berarti “Singgasana Raja” atau ‘Kediaman Raja-raja’. Proses pembangunan Naypyitaw sebagai ibu kota Myanmar mengeluarkan biaya Rp580 triliun dan dianggap sebagai proyek kesombongan Jenderal Than Shwe. Naypyidaw kini menjadi kota ketiga terbesar di Myanmar setelah Yangon dan Mandalay.

Kota Naypyidaw. Foto: thestart

Tujuh ahli nujum hadang Aung San Suu Kyi

Jenderal Than Shwe mengikuti semua petunjuk E Thi meskipun saran atau nasihatnya kadang tidak lazim. 12 Februari 2011, Jenderal Than Shwe menggemparkan Myanmar dengan tampil di televisi nasional mengenakan longyiachiek atau desain sarung wanita.

Acheik adalah sarung bermotif gelombang yang saling terhubung dan umum dikenakan wanita di pesta pernikahan dan acara formal. Sontak, penampilan Jenderal Than Shwe dengan sarung “feminin” dianggap aneh dan membuat masyarakat bertanya-tanya. Seketika itu juga diktator militer Myanmar itu menjadi bahan pergunjingan orang-orang di seluruh kota.

Jenderal Than Shwe mengenakan sarung wanita, Foto:AP/Khin Maung Win

 

Menurut salah satu ahli nujum, apa yang dilakukan Jenderal Than Shwe adalah praktik yadayah chai. Para peramal telah berulang kali mengingatkan akan ada seorang wanita yang memerintah Myanmar suatu hari nanti. Merespon kekhawatiran itu, Jenderal Than Shwe mencoba menggagalkan jalan pemimpin National League for Democracy (NLD) Aung San Suu Kyi menuju kekuasaan dengan cara mengenakan longyi wanita sebagaimana disarankan E Thi, sang ahli nujum. Tujuannya untuk melawan pengaruh Aung San Suu Kyi, sekaligus menetralisir dan melemahkan kemampuan aktivis prodemokrasi Myanmar itu.

Cara tersebut dipercaya bisa mematahkan ramalan Aung San Suu Kyi dan membalikkan karmanya. Jenderal Than Shwe dikabarkan memiliki tujuh ahli nujum pribadi, beberapa di antaranya ditugasi untuk fokus pada Aung San Suu Kyi.

Aung San Suu Kyi

E Thi adalah peramal andalan junta militer Myanmar dan langganan banyak pejabat negara. Kemampuannya meramal masa depan melampaui keterbatasannya. E Thi adalah peramal difabel, buta dan tuli. Semua komunikasi dengan kliennya dilakukan secara tertulis dengan bantuan adiknya. E Thi selalu meminta adiknya menerjemahkan prediksinya. Tarif jasa konsultasi E Thi sangat mahal mencapai US$1.000 atau sekitar Rp14 Juta per jam. Karena banyak kliennya orang penting dan dari kalangan berada, kabarnya E Thi sangat sibuk dan sulit membuat janji dengannya.

E Thi terkenal karena kemampuannya menebak nomor seri uang kertas sebelum melihatnya. E Thi juga pernah meramalkan gempa bumi kuat di Thailand pada tahun 2012 namun prediksinya disambut skeptis. Sampai akhirnya gempa besar mengguncang wilayah utara Thailand pada Mei 2014. EThi, ahli nujum terkenal asal Myanmar meninggal dunia di usia 58 tahun.

Mempercayai klenik, ramalan, ilmu gaib dan mitos adalah praktik-praktik yang umum di jumpai di negara-negara Asia Tenggara. Di Myanmar mempercayai ramalan melalui astrologi, numerologi, palmistry atau metafisika bukanlah sesuatu yang janggal atau aneh.

Praktik ramal-meramal hidup dan merupakan bagian penting dari budaya Myanmar. Kemampuan Myanmar mempertahankan sebagian besar keaslian budayanya menjadi magnet wisatawan berkunjung ke negeri seribu pagoda.

COPYRIGHT ©CUTITIPS 2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.